Minggu, 26 April 2015

Perekonomian Singapura

BAB4
Struktur Produksi, Distribusi Pendapatan Dan kemiskinan

Struktur Produksi




Sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi struktur produksi suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :
· Sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju konsumsi lebih banyak barang-barang industri
· Perubahan teknologi yang terus-menerus, dan
· Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.
Struktur produksi nasional pada awal tahun pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.

Distribusi Pendapatan 


Pertumbuhan versus Pemerataan

* Simon Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan makin tidak merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi pendapatan makin merata.

Indikator Distribusi Pendapatan

* Distribusi Ukuran (Distribusi Pendapatan Perorangan)
* Kurva Lorenz
* Koefisien Gini


Distribusi Ukuran
(personal distribution of income)

1. Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan indikator yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga.

2. Yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana sumbernya, entah itu bunga simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah ataupun warisan.

3.  Lokasi sumber penghasilan (desa atau kota) maupun sektor atau bidang kegiatan yang menjadi sumber penghasilan (pertanian, industri, perdagangan, dan jasa) juga diabaikan.
4. Bila si X dan si Y masing-masing menerima pendapatan yang sama per tahunnya, maka kedua orang tersebut langsung dimasukkan ke dalam satu kelompok atau satu kategori penghasilan yang sama, tanpa mempersoalkan bahwa si X memperoleh uangnya dari membanting tulang selama 15 jam sehari, sedangkan si Y hanya ongkang-ongkang kaki menunggu bunga harta warisan yang didepositokannya.
5. Berdasarkan pendapatan tsb, lalu dikelompokkan menjadi lima kelompok, biasa disebut kuintil (quintiles) atau sepuluh kelompok yang disebut desil (decile) sesuai dengan tingkat pendapatan mereka, kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok.
6. Selanjutnya dihitung berapa % dari pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing kelompok, dan bertolak dari perhitungan ini mereka langsung memperkirakan tingkat pemerataan atau tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di masyarakat atau negara yang bersangkutan.

7. Indikator yang memperlihatkan tingkat ketimpangan atau pemerataan distribusi pendapatan diperoleh dari kolom 3, yaitu perbandingan antara pendapatan yang diterima oleh 40 persen anggota kelompok bawah (mewakili lapisan penduduk termiskin) dan 20 persen anggota kelompok atas (lapisan penduduk terkaya).

8. Rasio inilah yang sering dipakai sebagai ukuran tingkat ketidakmerataan antara dua kelompok ekstrem, yaitu kelompok yang sangat miskin dan kelompok yang sangat kaya di dalam suatu negara. Rasio ketidakmerataan dalam contoh di atas adalah 14 dibagi dengan 51, atau sekitar 1 berbanding 3,7 atau 0,28.

9. Peta pendapatan jika total populasi dibagi menjadi sepuluh kelompok (desil) yang masing-masing menguasai pangsa 10 persen pada kolom 4.

10. 10 persen populasi terbawah (dua individu atau rumah tangga yang paling miskin) hanya menerima 1,8 persen dari total pendapatan, sedangkan 10 persen kelompok teratas (dua individu atau rumah tangga terkaya) menerima 28,5 persen dari pendapatan nasional.
11. Bila ingin diketahui berapa yang diterima oleh 5 persen kelompok teratas, maka jumlah penduduknya harus dibagi menjadi 20 kelompok yang masing-masing anggotanya sama (masing-masing kelompok terdiri dari satu individu) dan kemudian dihitung persentase total pendapatan yang diterima oleh lima kelompok teratas dari pendapatan nasional atau total pendapatan yang diterima oleh kedua puluh kelompok tersebut.
12. Dari Tabel 5-1, kita bisa mengetahui bahwa pendapatan 5 persen penduduk terkaya (20 individu) menerima 15 persen dari pendapatan, lebih tinggi dibandingkan dengan total pendapatan dari 40 persen kelompok terendah (40 persen rumah tangga yang paling miskin).

Kurva Lorenz

1. Sumbu horisontal menyatakan jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif. Misalnya, pada titik 20 kita mendapati populasi atau kelompok terendah (penduduk yang paling miskin) yang jumlahnya meliputi 20 persen dari jumlah total penduduk. Pada titik 60 terdapat 60 persen kelompok bawah, demikian seterusnya sampai pada sumbu yang paling ujung yang meliputi 100 persen atau seluruh populasi atau jumlah penduduk.

2. Sumbu vertikal menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok) penduduk tersebut. Sumbu tersebut juga berakhir pada titik 100 persen, sehingga kedua sumbu (vertikal dan horisontal) sama panjangnya.

3. Setiap titik yang terdapat pada garis diagonal melambangkan persentase jumlah penerimanya (persentase penduduk yang menerima pendapatan itu terdapat total penduduk atau populasi). Sebagai contoh, titik tengah garis diagonal melambangkan 50 persen pendapatan yang tepat didistribusikan untuk 50 persen dari jumlah penduduk.

4. Titik yang terletak pada posisi tiga perempat garis diagonal melambangkan 75 persen pendapatan nasional yang didistribusikan kepada 75 persen dari jumlah penduduk.

5. Garis diagonal merupakan garis "pemerataan sempurna" (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan.

6. Persentase pendapatan yang ditunjukkan oleh titik-titik di sepanjang garis diagonal tersebut persis sama dengan persentase penduduk penerimanya terhadap total penduduk.

7. Titik A menunjukkan bahwa 10 persen kelompok terbawah (termiskin) dari total penduduk hanya menerima 1,8 persen total pendapatan (pendapatan nasional).

8. Titik B menunjukkan bahwa 20 persen kelompok terbawah yang hanya menerima 5 persen dari total pendapatan, demikian seterusnya bagi masing-masing 8 kelompok lainnya. Perhatikanlah bahwa titik tengah, menunjukkan 50 persen penduduk hanya menerima 19,8 persen dari total pendapatan.

9. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan, kurva Lorenz akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horizontal sebelah bawah.


Figur (a):

Distribusi pendapatan yang relatif merata
(ketimpangannya tidak parah).

Figur (b):

Distribusi pendapatan yang relatif tidak merata
(ketimpangannya parah)

Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat

1. Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada.

2. Pada Figur 5-6, rasio yang dimaksud adalah rasio atau perbandingan bidang A terhadap total segitiga BCD. Rasio inilah yang dikenal sebagai rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) yang seringkali disingkat dengan istilah koefisien Gini (Gini coefficient).

3. Istilah tersebut diambil dari nama seorang ahli statistik Italia yang pertama kali merumuskannya pada tahun 1912.

4. Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/ kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

5. Angka ketimpangan untuk negara-negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara 0,50 hingga 0,70.

6. Untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35.

Kemiskinan

Salah satu masalah yang cukup mendesak untuk diatasi oleh suatu Negara adalah masalah kemiskinan. Untuk itulah ekonomi Indonesia memiliki Trilogi Pembangunan yang didalamnya ada poin pemerataan. Meskipun sampai dengan saat ini rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan masih cukup besar (+/- dari 100orang Indonesia, 11-12 orang diantaranya masih miskin), namun upaya untuk mengentaskan mereka terus diupayakan. Beberapa diantaranya adalah dengan program IDT ( Inpres Desa Tertinggal) dan kemitraan pengusaha besar dan pengusaha kecil yang dicanangkan oleh pemerintah.

1. Penyebab Kemiskinan

a) Karena ciri dan keadaan masyarakat dalam suatu daerah sangat beragam (berbeda) ditambah dengan kemajuan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang masih rendah.

b) Kebijakan dalam negeri seringkali dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri atau internasional antara lain dari segi pendanaan.

2. Ukuran Kemiskinan

a) Kemiskinan Absolut

Konsep kemiskinan pada umumnya selalu dikaitkan dengan pendapatan dan kebutuhan, kebutuhan tersebut hanya terbatas pada kebutuhan pokok ataukebutuhan dasar ( basic need ).
Kemiskinan dapat digolongkan dua bagian yaitu :

• Kemiskinan untuk memenuhi bebutuhan dasar.
• Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.


b) Kemiskinan Relatif

Menurut Kincaid ( 1975 ) semakin besar ketimpang antara tingkat hidup orang kaya dan miskin maka semakin besar jumlah penduduk yang selalu miskin.


3. Strategi Dalam Mengurangi kemiskinan

a) Pembangunan Sektor Pertanian

Sektor pertanian memiliki peranan penting di dalam pembangunan karena sektortersebut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan masayrakat dipedesaan berarti akan mengurangi jumlah masyarakat miskin. Teru
tama sekali teknologi disektor pertanian dan infrastruktur.

b) Pembangunan Sumber Daya manusia

Sumberdaya manusia merupakan investasi insani yang memerlukan biaya yang cukup besar, diperlukan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyrakat secara umum, maka dari itu peningkatan lembaga pendidikan, kesehatan dan gizi merupakan langka yang baik untuk diterapkan oleh pemerintah.


c) Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat

Mengingat LSM memiliki fleksibilitas yang baik dilingkungan masyarakat sehingga mampu memahami komunitas masyarakat dalam menerapkan rancangan dan program pengentasan kemiskinan


4. Faktor-faktor Penyebab kemiskinan

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemiskinan baik secara langsung maupun tidak langsung

a) Tingkat kemiskinan cukup banyak.

b) Mulai dari tingkat dan laju pertumbuhan output ( produktivitas tenaga kerja ).

c) Tingkat inflasi.

d) Tinggat Infestasi.

e) Alokasi serta kualitas sumber daya alam.

f) Tingkat dan jenis pendidikan.

g) Etos kerja dan motivasi pekerja.


BAB 5
Anggaran Pendapatan Belanja Negara Singapura
A. Perkembangan Dana Pembangunan Di Singapura
Singapura adalah cerita pertumbuhan yang luar biasa. Kembali pada tahun 1960, itu adalah salah satu negara termiskin di Asia. Sejak saat itu, telah mengubah dirinya menjadi salah satu dari sebagian besar negara maju, dengan tertinggi GDP per kapita ketiga di dunia setelah Qatar dan Luxemburg. Singapura pergi melalui beberapa tahap dalam perkembangan menakjubkan ini. Ini awalnya dimulai dengan industrialisasi dasar, kemudian pindah ke industri yang lebih canggih sebelum berkembang sebagai pusat regional untuk perdagangan dan jasa keuangan. Fase terbaru dari perkembangan adalah membangun ekonomi berbasis pengetahuan. Perkembangan yang luar biasa di Singapura memberikan pelajaran yang berguna bagi negara-negara GCC, yang berusaha untuk diversifikasi ekonomi mereka jauh dari minyak ke model yang lebih berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan.

Pada tahun 1960, Singapura adalah koloni Inggris yang ekonominya terutama menjabat sebagai pos perdagangan regional. Pangkalan militer Inggris menyumbang hampir seperlima dari PDB nominal dan populasi setidaknya 75% tidak memiliki pendidikan dasar. Sejak itu, perekonomian telah berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Antara 1966 dan 2013, PDB riil per kapita tumbuh lima belas kali lipat, tiga kali lebih cepat pertumbuhannya di Amerika Serikat.

Transformasi dramatis terjadi dalam fase yang berbeda, hampir menyusul buku teks ekonomi. Perekonomian tumbuh baik karena peningkatan input (tenaga kerja, modal atau sumber daya alam) atau karena masukan mereka menjadi lebih produktif. Dalam kasus Singapura, sebagian besar pertumbuhan awal berasal dari peningkatan pesat dalam tenaga kerja dan modal. Baru-baru ini, bagaimanapun, sebagian besar kisah pertumbuhan Singapura telah datang dari peningkatan produktivitas lebih sebagai ekonomi telah menjadi lebih berbasis pengetahuan.
Tahap pertama pembangunan Singapura melibatkan mobilisasi besar masukan untuk mengubah perekonomian menjadi basis manufaktur yang dipimpin ekspor. Hal ini didorong oleh kebijakan industri pemerintah sengaja dibiayai oleh tabungan dan arus masuk investasi asing nasional. Akibatnya, investasi sebagai bagian dari output naik dari kurang dari 10% di tahun 1960 menjadi lebih dari 40% pada pertengahan 1980-an, yang menyebabkan akumulasi besar modal dan tenaga kerja terampil. Selain itu, Singapura memperluas kolam tenaga kerja melalui imigrasi dan partisipasi yang lebih tinggi dari penduduk dalam angkatan kerja.

Dengan demikian, Singapura memanjat rantai nilai tambah, bergerak dari industri dasar seperti tekstil, pakaian dan plastik untuk yang canggih seperti elektronik, kimia, rekayasa presisi dan ilmu biomedis. Selain itu, perkembangan ini pergi tangan-di-tangan dengan peningkatan besar dalam layanan, khususnya perbankan. Namun, model pembangunan berbasis hanya pada perluasan input akhirnya hits dinding sebagai pengembalian marginal untuk input yang menurun dan populasi menjadi bekerja penuh.

Mengingat sehingga batas-batas model pembangunan sebelumnya, Singapura harus pindah ke tahap baru pembangunan yang mengandalkan keuntungan produktivitas dari input yang ada daripada ekspansi mereka. Untuk melakukannya, Singapura mengadopsi dua strategi. Yang pertama bergantung pada impor kemajuan teknologi global terbaru untuk meningkatkan produktivitas modal dan tenaga kerja dengan mendorong investasi asing langsung dan mempekerjakan bakat asing sebagai sarana transfer pengetahuan. Yang kedua terletak pada penyediaan hukum, pemerintahan dan lingkungan intelektual hak untuk tumbuh dan memelihara bakat yang diperoleh dalam rangka untuk berinovasi dan menciptakan kemajuan teknologi baru. Dalam hal ini, Singapura menempati urutan pertama dalam rezim insentif ekonomi untuk ekonomi berbasis pengetahuan dan keempat di dunia dalam hal inovasi di Index Bank Dunia Knowledge Economy. Bank Dunia juga menempatkan Singapura pertama di dunia dalam Surat Melakukan Laporan Bisnis.

Qatar bisa menarik pelajaran berharga dari pengalaman Singapura dalam pelaksanaan Qatar National Visi 2030. Keduanya adalah negara-negara kecil dengan perekonomian terbuka ke seluruh dunia. Meskipun Qatar diberkati dengan sumber daya yang jauh lebih alami daripada Singapura, produksi di sektor hidrokarbon yang telah plateaued dan ekonomi sedang mengalami fase diversifikasi.

Tahap diversifikasi ditandai dengan ekspansi yang cepat dalam pengeluaran investasi ke dalam infrastruktur dan industri yang mengarah ke build-up besar dalam modal fisik seperti jalan, mesin dan bangunan. Hal ini disertai dengan peningkatan pesat dalam tenaga kerja terampil melalui imigrasi. Hal ini mirip di alam untuk tahap pertama pertumbuhan yang cepat Singapura. Namun, seperti negara-negara lain, proses perluasan input produksi pada akhirnya ajalnya, membutuhkan sebuah model baru pembangunan sejalan dengan Visi Nasional Qatar 2030. Faktor kunci dalam mengubah model pertumbuhan akan kemampuan Qatar untuk menarik, mengembangkan dan mempertahankan sumber daya manusia dalam cara yang sama seperti Singapura melakukannya hari ini.

Dalam jangka panjang, pertumbuhan ini terutama disebabkan peningkatan pengetahuan dan peningkatan produktivitas. Pengalaman menunjukkan bahwa Singapura menawarkan pendidikan yang sangat baik, menarik pekerja berkualitas tinggi dan menciptakan lingkungan yang tepat dan infrastruktur untuk berinovasi dan maju adalah kondisi yang diperlukan untuk menciptakan tingkat tinggi secara berkelanjutan dari pertumbuhan ekonomi. Qatar National Visi 2030 menetapkan roadmap untuk tahap ini perkembangan baru.
B. Proses Penyusunan Anggaran Singapura
Anggaran Singapura dipersiapkan untuk setiap tahun anggaran, yang dimulai pada tanggal 1 April setiap tahun. Sebagai contoh, Anggaran Singapura 2011 untuk periode 1 April 2011sampai 31 Maret 2012. Di Singapura tahun anggaran disingkat FY (Fiscal Year), seperti FY2009, FY 2010, FY 2011 dst.




Anggaran menunjukan :

a. Pengluaran yang di setujui dan pengeluaran dana pemerintah dariun-tahun keuangan terakhir ; dan

b. Rencana pendapatan dan pengeluaran pemerintah untuk tahun keuangan yang bersangkutan

Proses penganggaran tahunan melalu proses-proses sebagai berikut :






1.      Pemerintah    Menyetujui    Anggaran

2.      Menteri    Keuangan    Menyampaikan    Anggaran    Ke     Parlemen

3.      Komite    Anggaran    Membicarakan    Anggaran

4.      RUU    Anggaran   Diselesaikan, Presiden    Menyetujui   Untuk    Mengesahkan    RUU    Anggaran

5.      Presiden    Memberikan     Persetujuan,     RUU     Anggaran      Disahkan     Sebagai     UU

 
Setelah Parlemen setuju dengan Usulan Anggaran, akan memberikan persetujuan melalui BillSupply. Presiden kemudian akan perlu untuk memberikan persetujuan kepada Bill Supply





C. Perkiraan Penerimaan Dan Pengeluaran Negara Singapura

Nilai saat ini, data historis, perkiraan, statistik, grafik dan kalender ekonomi - Singapura - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.











Realisasi   Sebelum Ini   Tertinggi   Paling Rendah   Tanggal  Satuan Frekuensi
-0.13
1.10
21.23
-0.50
1990 - 2014
  Persen dari PDB
Tahunan

Singapura - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara - 2014


Singapura Pemerintah
Terakhir
Sebelum Ini Tertinggi Paling Rendah Satuan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
-0.13
1.10
21.23
-0.50
Persen dari PDB
[+]
Nilai Utang Pemerintah dibandingkan dengan PDB
105.50
108.40
108.40
67.40
Persen
[+]
Nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
2729.10
907.30
7708.00
-6644.20
SGD - Juta
[+]
Belanja Pemerintah
9160.10
8753.70
9947.60
733.60
SGD - Juta
[+]
Peringkat Kredit
98.60
-
-
-
-
[+]
D. Dasar Perhitungan Perkiraan Penerimaan Negara Singapura
Singapura sama sekali tidak memiliki sumber daya alam (SDA) namun negara tersebut memiliki industri berbasis SDA sehingga membuat negara tersebut maju dan rata-rata pendapatan per kapita warganya mencapai US$ 48. 595 per orang per tahun.

Sementara Indonesia, yang merupakan negara kaya SDA, rata-rata pendapatan per kapita warganya hanya US$ 3.452 per orang per tahun. Artinya pendapatan perkapita Singapura kurang lebih 13 kali lipat dari rata-rata pendapatan per kapita Indonesia.


Selain Singapura, negara-negara lain di Asia yang mengandalkan impor SDA dari negara lain dan mempunyai industri berbasis SDA yang maju dan meningkatkan GDP masyarakatnya, antaralain:
  • Korea Selatan, GDP US$ 23,639 per kapita dimana pasokan SDA berasal dari impor
  • Taiwan, GDP US$ 20,156 per kapita pasokan SDA dari impor
  • Malaysia GDP US$ 9,659 per kapita
  • China, GDP US$ 5,343 per kapita dengan pasokan SDA dari impor
  • Thailand, GDP US$ 5,046 per kapita pasokan SDA dari impor.

Singapura juga mendapatkan penerimaan negara dari sektor pajak yang di berlakukan di negara berdaulat tersebut.

BAB 6
Peran Sektor Luar Negri Dalam Perekonomian Singapura

Peran Sektor luar negri dalam perekonomian singapura tercakup dalam beberapa aspek diantaranya :

1. Perdaganan barang antar negara

Dalam aspek ini sangat berpengaruh dalam perekonomian singapura, dikarenakan singapura perlu mengimpor beberapa bahan pangan untuk memenuhi pasokan kebutuhan pokok masyarakat singapura, misalkan beras, sayuran, dan lain lain, hal ini disebabkan karena singapura tidak memiliki lahan yang cukup  luas untuk sektor pertanian, namun di beberapa tahun ini negara tersebut telah membangun sedikit demi sedikit sektor pertaniannya agar dalam kebutuhan pangan masyarakatnya, tidak perlu mengimpor lagi, dan tentu saja bisa menghemat anggaran negara dengan cara menggunakan produk dalam negri sendiri tanpa harus mengimpor terlebih dahulu.

2. Peran Kurs Valuta Asing Dalam Perekonomian Luar Negri

Kurs valuta asing sering di artikan sebagai banyaknya nilai mata uang suatu negara (Dollar singapura misalkan) yang harus di korbanarkan atau di keluarkan untuk mendapat satu unit mata uang asing (USD). sehingga dengan kata lain jika kita gunan contoh Dollar singapura dan USD maka kurs valuta asing adalah nilai tukar yang menggambarkan banyaknya Dolar singapura yang haus di keluarkan untuk mendapat satu unit USD dalam kurun waktu / periode tertentu. Masalah kurs valuta asing muncul ketika transaksi ekonomi sudah mulai melibatkan dua Curency (mata uang) atau lebih, tentunya sebagai alat untuk menjembatani perbedaan mata uang di tiap masing masing negara.

3. Industri antar negara

Dalam konteks ini singapura memang bisa di bilang "jagonya". karna singapura mampu membuat berbagai macam produk industri yang sudah di akui oleh dunia, dan singapura memiliki beberapa projek industri yang bekerja sama dengan pihak luar sebagai pembantunya maupun pemiliknya, hal ini juga tentu saja membangkitkan tingkat kemakmuran ekonomi singapura dari periode ke periode. industri antar negara memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan ekonomi singapura karena di singapura memiliki banyak kerjasama yang di lakukan oleh pihak asing yang menguntungkannya, sehingga negara singapura berkembang pesat, bahkan menempati urutan teratas dalam bidang perindustrian.



Sumber  :